Sebagai penggemar drama Korea, saya menonton berbagai genre mulai dari drama romantis, detektif, misteri, sejarah, futuristik dan komedi. Yang bikin adiktif adalah jalan cerita dan dialog yang ‘real’, membuat kita terbawa ke dalam dunia drama itu, walaupun tidak semua drama punya kualitas tinggi tapi rata-rata drakor (drama korea) dibuat dengan serius. Penulisnya tidak sembarangan menggambarkan profesi dan realitas sehari-hari tapi melalui riset, observasi dan diskusi plot serta karakteristik tiap peran. Alhasil bukan saya saja yang terpengaruh, ada banyak orang di berbagai belahan dunia yang bahkan sampai serius mempelajari budaya Korea karena pengaruh drakor. Drakor telah diekspor ke berbagai belahan dunia dan menghasilkan devisa yang tidak sedikit bagi negara.
Budaya dan identitas Korea yang tersebar melalui drakor memberikan kebanggaan bagi rakyat Korea dan mempengaruhi banyak orang di berbagai negara dalam berbagai hal. Di Indonesia, banyak remaja putri, bahkan yang memakai hijab, terinspirasi untuk menekuni musik, dunia kecantikan ataupun penguasaan bahasa karena menonton drakor. Politik identitas yang dibangun dengan halus melalui drama diterima dan di-internalisasi oleh penggemarnya yang pada akhirnya diasimilasi menjadi gaya hidup baru dan dilakoni kelompok penggemar tersebut. Bagaimana dengan kekristenan sebagai politik gaya hidup?
Di awal abad pertama, kekristenan merupakan gaya hidup ‘counter culture’ yang menyaingi narasi dominan budaya yang ada. Tercatat betapa menariknya komunitas ini bagi masyarakat sehingga mereka berkembang pesat. Kemudian mengalami penganiayaan di bawah tirani kekuasaan saat itu. Tekanan malah menyebabkan makin bertumbuhnya kekristenan berikut gaya hidup yang dibawa olehnya menjadi arus utama dominan dalam budaya pada abad pertengahan sampai awal abad modern. Identitas dan gaya hidup Protestanisme dianggap sebagai cikal bakal kapitalisme modern yang terbukti dapat membawa sebagian besar penduduk dunia keluar dari garis kemiskinan. Lalu di abad pertengahan para biarawan memodernisasi abad kegelapan dunia melalui karya dan pekerjaan mereka mendirikan universitas, akademi, rumah sakit. Lembaga-lembaga ini memperkuat ekonomi dan melayani yang lemah. Mereka mengubah dunia yang penuh dengan tahayul saat itu bukan dengan melenyapkan tahayul melainkan membiarkan iman mereka mempengaruhi karya pekerjaan mereka. Injil mempengaruhi cara kerja mereka, mereka tidak lagi bekerja bagi diri mereka sendiri tapi untuk kepentingan orang lain atau kepentingan bersama.
Di era modern dan postmodern ini, politik identitas Kristen mengalami berbagai tantangan dan kurang mampu menjawab dan bersaing dengan politik identitas budaya popular sebagai arus utama yang dominan maupun alternatif berbagai narasi politik identitas lain yang berkembang dalam masyarakat (radikalisme, separatisme, multikulturalisme termasuk di dalamnya LGBT dan sebagainya). Kekristenan sebagai politik gaya hidup alternatif kehilangan sengat dan daya dorong untuk mengubah narasi besar dalam masyarakat. Budaya popular memiliki celah dan peluang untuk dipakai sebagai sarana mengembangan politik identitas Kristen yang memiliki pengaruh positif bagi masyarakat. Kita memerlukan lebih banyak CS Lewis dan JR Tolkien dengan serial Narnia dan Lord of the Rings yang mencoba membawa nilai-nilai kekristenan dalam budaya dan gaya hidup.
Kapankah kita melihat munculnya aktor-aktor yang memakai profesi mereka sebagai bagian dari narasi besar untuk memperbaiki arus budaya utama di Indonesia ? Memakai iman, nilai, keyakinan dan kuasa yang mereka miliki untuk membawa kebaikan bagi banyak orang. Menyediakan narasi ‘counter culture’ yang berdampak kekal.