Pemahaman yang Salah tentang Kerja

Oleh: Ir. Tadius S. Gunadi, MCS

Walau kebanyakan profesional Kristen sudah ke gereja dari kecil bahkan sudah sering mendapat berbagai pembinaan, sebagian masih memiliki pemahaman tentang kerja yang salah atau kurang tepat menurut Alkitab. Sebagian memandang kerja sebagai kutukan Allah, konsekuensi dari kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa. Sementara itu, ada yang membedakan antara kerja rohani dan kerja duniawi, sehingga ada semacam kelas, dimana pekerjaan-pekerjaan yang bersifat religius dipandang lebih tinggi daripada pekerjaan-pekerjaan “sekuler”. Sebagian lagi meski beranggapan pekerjaan itu sesuatu yang penting, namun ia hanya bersifat fana atau hanya selama kita ada di dunia saja. Bagaimana seharusnya seorang profesional Kristen menanggapi pandangan-pandangan tersebut?

1. Kerja itu kutuk.

Saya dulu pikir kerja itu akibat kutukan Allah karena Adam dan Hawa berbuat dosa. Pikir saya kalau Adam dan Hawa tidak berbuat dosa maka mereka tidak perlu kerja. Hidup mereka seperti liburan tiap hari: jalan-jalan menikmati alam, main-main dengan air atau binatang, kalau mau makan tinggal petik buah yang ada di taman. Gara-gara mereka berbuat dosa, mereka diusir dari kehidupan yang ideal seperti di firdaus/kayangan, masuk ke dunia yang dikutuk Allah. Dimana sekarang mereka harus bekerja dengan bersusah payah jika mau tetap hidup. Karena itu, saya pernah pahami kerja itu akibat kutukan karena kejatuhan Adam dalam dosa.  Seperti yang  saya baca atau dengar dari Kejadian 3 khususnya ayat 17: Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu..."

Padahal kerja itu sudah ada sebelum Adam dan Hawa berbuat dosa, yaitu di Kejadian 2. Lihat ayat 15: "TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu." Jadi kerja bukan akibat kutukan. Kalau kita lihat Kej. 3: 17 yang dikutuk Allah bukan kerja tapi tanah ("terkutuklah tanah karena engkau").  Memang akibat dosa menyebabkan kerja lebih sulit karena ada berbagai semak atau rumput duri. Itu benar. Tapi kerja itu akibat kutukan, itu tidak benar. Bahkan di Kejadian 1 dan 2: 1-3, kita lihat Allah bekerja menciptakan langit dan bumi, serta segala isinya.

2. Kerja itu duniawi.

Waktu itu, saya pahami bahwa kerja itu untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keluarga. Atau untuk aktualisasi diri sebagai seorang sarjana yang sukses. Untuk pembuktian diri atau memenuhi ambisi dan cita-cita hidup yang sukses. Waktu itu saya pahami kerja yang tidak duniawi yaitu jika kita bekerja di gereja  jadi pendeta atau lakukan pelayanan di gereja sebagai penatua atau aktifis.

Padahal setelah saya dibukakan tentang teologia kerja, saya baru sadar bahwa kerja itu ilahi dan rohani. Karena kerja adalah mandat Allah bagi manusia. Seperti yang dapat kita baca di Kejadian 1:28 (TB): Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Allah berfirman agar mereka bekerja untuk menaklukkan bumi. Kita sudah lihat Kejadian 1 dan Kej. 2: 1-3 bahwa Allah sendiri bekerja selama 6 hari untuk menciptakan langit dan bumi serta isinya.

Yesus juga bekerja waktu ia hidup di dunia, sebagai tukang kayu dan sebagai guru (Rabbi). Di Yohanes 5:17 tertulis: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga." Jadi kerja itu tidak duniawi tapi ilahi. Itu adalah hakekat Allah yang bekerja sekalipun Ia Penguasa  alam semesta.

Di 2 Tesalonika 3:10 tertulis: "Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." Jadi Alkitab mengajarkan kita bahwa bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Itu rohani bukan duniawi. Bahkan untuk aktualisasi diri dalam arti mencari pekerjaan sesuai dengan bakat-talenta atau cita-cita atau ambisi pun bisa ilahi. Jika kita memahami bahwa bakat dan ambisi kita diberi Tuhan ke  dalam diri kita.

Kerja jadi duniawi kalau kita pahami itu sesuatu yang terpisah dari kehendak dan rencana Allah. Hanya semata-mata keinginan kita atau keinginan orang tua kita atau tuntutan hidup. Tapi kerja jadi ilahi jika kita memahami kerja itu adalah rencana dan kehendak Allah bagi kita. Dan kita bekerja sesuai dengan panggilan ("calling") Allah yang mulia bagi kita. Apakah bekerja di pelayanan gereja sebagai pendeta atau di luar gereja bekerja di instansi pemerintah, pendidikan, kesehatan, di bidang industri /bisnis, dll.

3.  Kerja itu fana

Dulu saya juga pahami kerja itu penting tapi itu hanya bersifat fana untuk mendukung kita lakukan pekerjaan atau pelayanan yang bersifat lebih mulia dan tidak fana (kekal). Contoh rasul Paulus, ia bekerja sebagai tukang tenda untuk mendukung kebutuhan hidup diri dan tim pelayanannya. Dimana pekerjaannya sebagai tukang tenda dimana ia harus kerja dengan baik agar hasil kerjanya memuaskan pelanggannya. Tapi itu bukanlah pekerjaan mereka yang utama tapi bersifat pendukung bagi pekerjaan mereka yang lebih utama yaitu menjadi pelayan Kristus.

Jika kita memahami bahwa kerja itu fana, hanya untuk mendukung pelayanan kita di gereja atau di lembaga pelayanan, maka orang Kristen tidak akan jadi kesaksian dan berdampak di pemerintahan, dunia pendidikan (sekolah, kampus), di dunia kesehatan (RS, perusahaan obat,...).  Padahal pekerjaan utama sebagian besar orang Kristen bukan di gereja atau di lembaga pelayanan tapi di pemerintahan atau di dunia kerja swasta. Mereka seharusnya dapat menjadi kesaksian dan berdampak di tempat kerja seperti  Yusuf atau Daniel.

Ingat firman Allah di Yer. 29:7,  "Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu."  Artinya umat Allah harus secara aktif mengusahakan kesejahteraan kota atau negara, karena kesejahteraannya adalah kesejahteraan mereka juga.  Orang Kristen diharapkan tidak hanya berdoa  di gereja dan lakukan pelayanan karitas seperti bagi-bagi sembako tapi menjadi profesional di pemerintahan dan swasta, bahkan bersedia jadi eksekutif atau legislatif  atau yudikatif untuk ikut memperjuangkan anti korupsi dan mal-praktek,  memerangi kemiskinan dan kebodohan, mengupayakan pemerataan dan keadilan bagi seluruh rakyat.  Sehingga negara kita makin maju dan sejahtera. 

Itulah sebabnya kami merasa terpanggil  untuk merintis pelayanan Workplace Institute of Nusantara (WIN) ini dengan tujuan untuk membagikan  pemahaman tentang kerja yang lebih baik dan tepat k​epada para profesional Kristen di negara kita.

Administrator February 19, 2024
Share this post
FIND MORE

Antara Bisnis Tuhan dan Bisnis Saya
Oleh: Wanlie, M.Si.