BEKERJA TANPA KEHILANGAN VISI (1*)

Ir. Joni Welman Simatupang, Ph.D

Untuk mendapatkan Visi dari TUHAN, kita harus membuka mata melihat kondisi sekeliling/sekitar kita sembari terus bergumul di dalam doa dan perenungan Firman Tuhan [kita bisa melihat teladan Nehemia di PL (Neh. 1:4) dan Para Rasul di PB (Kis. 6:4). “After an intense period of mourning, weeping, fasting, and prayer, Nehemiah received from God a clear vision for how he must direct his own life in the service of God.” Demikian juga setelah kedua belas rasul memusatkan pikiran dalam doa dan pelayanan Firman maka Firman Allah makin tersebar dan jumlah murid di Yerusalem makin bertambah banyak, juga sejumlah besar imam menyerahkan diri dan percaya.

Lihat gambar bagan/diagram sederhana di bawah ini:

Question: Apa Visi dari Tuhan bagi keberadaan Sdr/i di tempat kerja saat ini? “What is in God’s heart, tell me what to do.”  Mari kita fokus belajar dari teladan Nehemia, tokoh reformasi Israel.

Ingatlah bahwa sesuatu bisa menjadi suatu vokasi atau panggilan hanya jika ada pihak lain yang memanggil Anda untuk melakukannya, dan Anda melakukannya demi kepentingan pihak yang memanggil tersebut, bukan kepentingan Anda sendiri. Pekerjaan kita sehari-hari bisa menjadi suatu panggilan hanya jika dipahami ulang sebagai penugasan (panggilan) Allah bagi kita untuk melayani sesama. Dan memang seperti itulah selayaknya ajaran Alkitab kepada kita dalam memandang pekerjaan.

Nehemia mendapat visi dari Tuhan untuk membangun kembali Yerusalem yang sudah babak belur karena dosa-dosa dan kesalahan mereka (orang-orang Israel & nenek moyangnya) – ay.1-3. Hal inilah yang membuat Nehemia menangis dan berkabung (wept and mourned), berdoa dan berpuasa (I continued fasting and praying) ke hadirat Allah semesta langit (selama beberapa hari). Sampai “waktunya” tiba untuk menghadap Artahsasta raja Persia. Apa misi Nehemia? Membangun kembali tembok Yerusalem yang telah terbongkar dan yang pintu-pintu gerbangnya telah terbakar.

Apa yang ia lakukan selanjutnya? Ia melakukan survei terlebih dahulu tentang kondisi Yerusalem yang hancur lebur oleh karena invasi Babel sekitar tahun 586-587 SM. Setelah itu, barulah ia menyusun rencana dan strategi yang tepat. Pembangunan tembok ini adalah pekerjaan yang sangat tidak mudah. Oleh karena itu, Nehemia melibatkan seluruh orang Israel yang masih sisa/selamat (yang tinggal di Yerusalem sebagai “the remnant people”) untuk bekerja sama melaksanakan pekerjaan baik itu. Meskipun banyak tantangan yang dihadapi, baik dari dalam (keluhan-keluhan internal, di pasal 5) maupun dari luar (berupa intimidasi dari musuh-musuh/orang-orang yang tidak senang atas usaha-usaha membangun kembali tembok Yerusalem, di pasal 4), pembangunan tembok Yerusalem pada akhirnya diselesaikan hanya dalam waktu 52 hari (Neh. 2:11-20, 6:15). Sungguh hal yang luar biasa!

Ada lima hal yang bisa kita pelajari dari sikap dan teladan Nehemia dalam kisah ini:    

1.      Dalam bekerja, kita meminta pertolongan Allah (Neh. 4: 4-5). “Trusting God’s faithfulness can dispel our fearfulness.” (ODB, 23 Maret 2018).

2.      Kita harus bekerja dengan segenap hati (ay.6). Hal ini juga selaras dengan perkataan Paulus di Perjanjian Baru di Kolose 3:23 yang berbunyi demikian: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

3.      Kita tidak perlu takut dalam bekerja karena Allah selalu beserta umat yang percaya kepadaNya (mengandalkan Dia), ay.14. Sebagai pemimpin, Nehemia memberikan motivasi dan terus menyemangati orang Israel dan menjadi teladan yang baik bagi mereka.

4.      Sebagai pemimpin (leader) kita perlu mendengar keluhan orang-orang yang kita pimpin dan mengambil sikap yang tegas dan tepat dalam meresponinya (Neh. 5: 6-7, dst).

5.      Dalam bekerja, jangan mau terintimidasi dan terkecoh oleh intrik orang-orang yang tidak suka akan hal baik yang sedang kita lakukan (Neh. 6:3). Dan selalu ingat bahwa apa yang kita lakukan itu adalah “suatu pekerjaan yang besar” dari Tuhan.

Orang-orang Kristen harus menyadari pemahaman revolusioner tentang tujuan dari pekerjaan mereka dalam dunia ini. Kita jangan memilih pekerjaan dan melakukan pekerjaan hanya untuk memenuhi kepentingan kita. Kita harus memandang pekerjaan kita sebagai suatu cara untuk melayani Allah dan sesama kita. Jadi, kita harus memilih dan melakukan pekerjaan kita sesuai dengan tujuan itu. Pertanyaan yang berkaitan dengan pilihan pekerjaan kita bukan lagi “Apa yang akan menghasilkan uang paling banyak bagi saya dan memberi saya status yang paling tinggi?” Pertanyaannya sekarang harus menjadi “Bagaimana caranya, dengan kemampuan-kemampuan dan kesempatan-kesempatan yang saya miliki, saya bisa memberi pelayanan terbesar bagi Allah dan sesama, mengetahui apa yang sesuai dengan kehendak Allah dan kebutuhan manusia?”

Despite of all interuptions and problems, Nehemia tetap setia dan berpegang pada visi dan misi yang Tuhan sudah tanam dalam hatinya. Sikapnya sangat jelas dalam menghadapi semua tantangan, masalah, dan godaan untuk berhenti melakukan pekerjaan baik tersebut. “Maka selesailah tembok itu pada tanggal dua puluh lima bulan Elul, dalam waktu lima puluh dua hari.” Apa dampaknya? “Ketika semua musuh kami mendengar hal itu, takutlah semua bangsa sekeliling kami. Mereka sangat kehilangan muka dan menjadi sadar, bahwa pekerjaan itu dilaksanakan dengan bantuan Allah kami.” (Neh. 6:15-16) – What an amazing grace! Bukan Nehemia yang kehilangan visi melainkan mereka yang kehilangan muka (merasa dipermalukan).

 Dampak dari “bekerja tanpa kehilangan visi” adalah Allah dimuliakan dan diagungkan di dalam dan melalui pekerjaan kita.

Jika tujuan kerja adalah melayani dan meninggikan diri kita sendiri, maka secara tak terhindarkan pekerjaan itu sendiri akan makin kurang penting dibandingkan diri kita sendiri. Keagresifan kita pada akhirnya akan menjadi kekejaman bagi orang lain dan kesehatan kita. Dorongan untuk bekerja menjadi kelelahan luar biasa. Kecukupan diri saja akan membuat kita membenci diri sendiri. Tetapi jika tujuan bekerja adalah melayani dan melakukan sesuatu yang mulia di luar diri kita sendiri, maka kita sebenarnya memiliki suatu alasan yang lebih baik untuk menggunakan talenta, ambisi, dan semangat kewirausahawan kita – dan kita lebih mungkin berhasil dalam jangka panjang, bahkan menurut definisi dunia.[2]   

​Keterangan:

[1]*Tulisan ini adalah sebagian khotbah yang pernah disampaikan oleh Penulis di acara Persekutuan Jumat Kementerian Perindustrian pada tanggal 23 Maret 2018.

[2] Sebagian paragraph dari tulisan ini diambil dari buku Timothy Keller, “Every Good Endeavor” yang telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan judul “Apakah Pekerjaan Anda Bagian Dari Pekerjaan Allah?” hal.63-65.

ADMIN WIN INDONESIA June 22, 2026
FIND MORE