Ambisi dalam Perspektif Iman Kristen

Oleh: Redaksi

Ambisi sering dikaitkan dengan keinginan kuat untuk mencapai posisi tinggi atau pengaruh besar. Namun, ambisi juga bisa bermakna sebagai semangat untuk mencapai keunggulan dan perbaikan diri. Dalam dunia profesional, dorongan untuk maju dan mencapai keberhasilan adalah sesuatu yang umum. Namun, bagi orang Kristen, hal ini bisa menjadi dilema: apakah ambisi itu baik, netral, atau justru sesuatu yang perlu ditebus agar selaras dengan kehendak Tuhan?


William Booth, pendiri Bala Keselamatan, pernah berkata bahwa organisasi tersebut lahir dari "dorongan ambisi yang tak pernah padam." Namun, apakah ambisi seperti ini merupakan sesuatu yang salah? Pertanyaan ini relevan bagi banyak orang yang tengah mempertimbangkan perubahan karier, menghadapi ketidakpuasan di tempat kerja, atau bahkan bergumul dengan keinginan untuk lebih dihargai dan diakui.


Ambisi dalam Alkitab

Dalam Galatia 5:20, kata yang digunakan untuk menggambarkan "ambisi duniawi" adalah *eritheia*, yang awalnya berarti "pekerjaan yang dilakukan demi upah." Maknanya kemudian berkembang menjadi pencarian posisi dan jabatan bukan untuk melayani, tetapi demi keuntungan pribadi. Yakobus juga memperingatkan tentang "ambisi yang mementingkan diri sendiri" sebagai bentuk kebijaksanaan yang duniawi dan tidak rohani (Yakobus 3:13-16). Yesus sendiri menegaskan bahwa siapa yang ingin menjadi yang terbesar harus menjadi pelayan bagi sesamanya (Matius 20:26-27).


Namun, Alkitab juga menunjukkan bahwa ada bentuk ambisi yang baik. Paulus menasihati agar orang yang merindukan jabatan penilik jemaat memiliki ambisi yang saleh (1 Timotius 3:1). Paulus sendiri memiliki ambisi untuk memberitakan Injil, termasuk ke wilayah-wilayah baru seperti Spanyol. Ini menunjukkan bahwa ambisi, ketika diarahkan kepada tujuan yang benar, dapat menjadi alat bagi kemuliaan Tuhan.


Teladan Ambisi yang Kudus dalam Perjanjian Lama

Perjanjian Lama juga memberikan berbagai contoh tentang ambisi yang baik maupun yang buruk. Yusuf memiliki visi besar dari Tuhan melalui mimpinya, meskipun awalnya ia menggunakannya dengan cara yang salah. Jacob menginginkan berkat Tuhan, tetapi ia mendapatkannya dengan cara yang tidak benar. Sebaliknya, Gideon memiliki ambisi untuk menyelamatkan Israel, Yosua ingin menaklukkan tanah perjanjian, Nehemia bertekad membangun kembali tembok Yerusalem, dan Paulus berambisi untuk menanam gereja di setiap kota besar di Kekaisaran Romawi.


Sayangnya, ayat-ayat seperti Matius 6:33 sering kali hanya diterapkan dalam konteks pelayanan gereja dan penginjilan, tanpa mempertimbangkan bagaimana nilai-nilai Kerajaan Allah bisa diwujudkan dalam dunia kerja dan masyarakat. Ambisi untuk memberikan layanan terbaik kepada pelanggan atau memberikan kesejahteraan yang adil bagi karyawan bisa menjadi bentuk ambisi yang kudus, sama seperti keinginan untuk mendirikan gereja baru di daerah yang belum terjangkau.


Membedakan Ambisi yang Baik dan yang Buruk

Ambisi yang bersifat duniawi muncul ketika seseorang mendefinisikan dirinya berdasarkan pencapaian, bukan karakter. Banyak orang menggantungkan identitas mereka pada kesuksesan profesional, yang pada akhirnya bisa menyebabkan kehidupan yang penuh tekanan atau kekecewaan ketika harapan mereka tidak terpenuhi. Ambisi yang tidak terkendali juga dapat memicu persaingan tidak sehat, ketidakpuasan yang terus-menerus, serta penggunaan orang lain sebagai batu loncatan untuk mencapai tujuan pribadi.


Sebaliknya, ambisi yang ditebus oleh Tuhan adalah ambisi yang berakar pada panggilan-Nya. Orang-orang yang memiliki ambisi yang ditebus akan tetap memiliki semangat dan visi yang kuat, tetapi dengan tujuan untuk memuliakan Tuhan dan membawa manfaat bagi sesama. Ambisi ini tidak didorong oleh kesombongan atau keinginan untuk membangun kerajaan pribadi, tetapi oleh keinginan untuk memenuhi rencana Allah dalam keluarga, pekerjaan, gereja, dan komunitas.


Menebus Ambisi dengan Perspektif Kekristenan

Menjalani hidup dengan ambisi yang kudus memerlukan keseimbangan antara beberapa aspek penting:


1. Pengendalian Diri – Memastikan bahwa dorongan untuk maju selaras dengan nilai-nilai Kristiani dan tidak mengorbankan integritas.

2. Kepuasan dalam Tuhan – Paulus berkata bahwa ia telah belajar untuk merasa cukup dalam segala keadaan (Filipi 4:12). Ambisi yang sehat bukanlah ketidakpuasan yang terus-menerus, tetapi semangat untuk terus bertumbuh tanpa kehilangan rasa syukur.

3. Kesetiaan – Dalam dunia yang sibuk dan kompetitif, kesetiaan dalam hal kecil sering kali diabaikan. Tetapi Yesus berkata, "Barangsiapa setia dalam perkara kecil, ia setia juga dalam perkara besar" (Lukas 16:10).

4. Kasih kepada Sesama – Ambisi yang benar harus mempertimbangkan kesejahteraan orang lain dan tidak hanya berfokus pada diri sendiri.

5. Memuliakan Tuhan – Apapun yang kita lakukan, baik dalam bisnis, pekerjaan, atau pelayanan, harus dilakukan untuk kemuliaan Tuhan (1 Korintus 10:31).


Seperti yang dilakukan oleh J.S. Bach, yang menulis Soli Deo Gloria (Kemuliaan hanya bagi Tuhan) pada setiap karyanya, kita pun dapat mengarahkan setiap ambisi kita kepada Tuhan. Dalam akhirnya, hanya Tuhan yang dapat menilai apakah suatu pencapaian adalah keberhasilan sejati atau tidak.


Ambisi, ketika diarahkan kepada tujuan yang benar dan ditempatkan di bawah otoritas Tuhan, bukanlah sesuatu yang perlu dihindari, melainkan suatu kekuatan yang dapat membawa transformasi bagi dunia ini sesuai dengan kehendak-Nya.


=========================

*Artikel ini merupakan saduran dari artikel berjudul "Ambition" yang dapat dibaca di sini.

Redaksi March 15, 2025
Share this post
FIND MORE