Culture and Work Artikel

Calling, Vocation and Job !

Apakah calling, vocation dan job itu sama? Bila kita perhatikan ketika seseorang akan kuliah dan mencari jurusan apa, maka kriterianya adalah apakah jurusan tersebut berpotensi menempatkan kita pada pekerjaan yang baik dan menghasilkan serta memiliki karir yang baik nantinya setelah bekerja. Lalu setelah bekerja ada banyak lagi yang bingung ketika ada masalah dalam pekerjaan, haruskah pindah kerja, pindah profesi atau bertahan. Lalu kita coba doakan dan putuskan, walaupun belum tentu yakin betul. Kita belum punya pegangan yang agak jelas dalam pengambilan keputusan.

Menurut saya sebagai praktisi komunikasi dan branding, ‘calling’ itu seperti visi hidup kita yang terus menerus harus kita pertajam dan cari/rumuskan. Bila sudah agak jelas, ‘calling’ ini menjadi tolok ukur pengambilan keputusan yang kita lakukan dalam hal kerja. Kita dapat mencari vocation/profesi-profesi apa yang tersedia di dunia ini untuk memenuhi calling kita. Kita dapat menimbang-nimbang mana yang lebih tepat dan sesuai dengan keadaan/kondisi kita saat ini. Barulah kita cari atau buat job/pekerjaan-nya dengan ‘job description’ spesifik dari alternatif yang ditawarkan oleh pasar kerja atau kita citpakan sendiri peluang kerja kita.

Rumusnya : calling (panggilan), vocation (profesi), Job (pekerjaan)

Contohnya :

Seorang anak muda setelah melalui pergumulan, doa dan usaha merumuskan ‘calling’ atau panggilan hidupnya adalah membantu anak-anak untuk menikmati kegiatan fisik. Dia menemukan talentanya adalah bekerja bersama anak kecil dan dia tidak suka berada dalam ruangan dan menikmati kegiatan fisik. Dia melihat kebutuhan ‘dunia’ saat ini dimana banyak anak hanya tinggal dalam ruangan dan bermain game saja, padahal aktifitas fisik justru mendorong perkembangan otak dan kecerdasan. Sukacita terbesarnya adalah ketika dapat membantu orang lain melakukan sesuatu.

Vocation (profesi) apa yang dapat memenuhi ‘calling’nya untuk membantu anak-anak menikmati kegiatan fisik ? Dia dapat memilih profesi sebagai coach, trainer, teaching atau bahkan pengusaha.

Job (pekerjaan) yang dapat dipilihnya ada banyak di lowongan kerja misalnya jadi guru PT, jadi pelatih bola, jadi PT di gym buat anak-anak, jadi trainer di outbound dll.

Anak muda ini punya cita-cita jangka panjang menjadi wirausaha, yaitu wirausaha membuka outbound khusus untuk anak-anak. Karena dengan membuat ini dia dapat melakukan kegiatan/aktifitas fisik dan lainnya sesuai dengan idealismenya dan menanamkan nilai-nilai penting bagi anak-anak seperti kerja sama, sportivitas, cinta kasih dan disiplin. Bila bekerja di tempat lain, maka dia tidak bisa membuat peraturan dan sistem kerja yang dia tau belum tentu sesuai dengan Firman Tuhan.  Dia mulai merencanakan hidupnya : saat ini masih awal belum punya modal, maka dia harus mencari modal dan dapat memilih salah satu pekerjaan di atas yang paling memenuhi ‘calling’ dan tujuan jangka panjangnya. Sambil tetap terus berdoa, terbuka atas peluang-peluang yang diberikan Tuhan sepanjang perjalanan hidupnya dan mengevaluasi, mempertajam panggilannya.

Bila anda tertarik untuk mencoba menemukan panggilan dan merancang hidup anda, silahkan kontak tim WIN untuk melakukan workshop.

Hanya kamu yang bisa !

“Bingung nih mau masuk jurusan apa kuliahnya.” “Mau kerja dimana ya setelah lulus kuliah.” “Sepertinya aku salah jurusan nih”.

Menentukan arah dan tujuan dalam hidup memang tidak gampang. Tidak semua orang memiliki ‘personal calling’ yang jelas seperti Musa yang sangat jelas dipanggil untuk jadi pemimpin atau Daud yang bakalan jadi raja. Kebanyakan dari kita lebih seperti Yusuf, yang tahu bahwa Tuhan memanggil kita ke tujuan khusus tertentu yang hanya kita saja bisa jalankan, tapi tidak tahu dengan jelas jalannya seperti apa. Sepanjang hidup Yusuf, Tuhan memimpin dan memperjelas panggilannya hingga akhirnya terpenuhi.

Jaman now ini kalau bicara soal ‘calling’ atau panggilan biasanya terkait dengan orisinalitas menjadi diri sendiri, cari tahu ‘passion’ dan kejar passion itu. Ada tes minat bakat dan kemampuan juga ada tes karunia rohani. Tapi nyatanya ada begitu banyak orang yang merasa “I hate Monday”, yang hidupnya kurang optimal dan hanya hidup dari hari ke sehari. Apa yang salah ?

Bicara soal ‘calling’ adalah tentang ‘caller’ alias sang pemanggil, yaitu Tuhan Yesus sendiri. Apa kehendakNYA, tujuanNYA bagi kita, beban yang diberikan dalam hati kita yang terus menerus dipertajam, membuat kita gelisah sampai kita melakukannya. Bukan cuma soal minat, bakat atau talenta dan karunia kita saja. “Calling” akan mengintegrasikan siapa kita dengan apa yang kita kerjakan, yang keluar dari kabar baik itu. “Calling” terus menerus kita gumuli dan uji tiap hari, baik melalui disiplin rohani berdoa, relasi pribadi denganNYA, "sharing" dengan teman spiritual atau mentor kita dan mencoba melakukannya. Dalam Kristus ada kebebasan untuk ‘gagal’ karena Dia turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, bukan ? Jadi ketika sukacita sejati kita bertemu dengan kebutuhan penting dunia ini, disitulah tempat dimana Tuhan memanggil kita.

Jadi apa yang menghambat kita untuk menemukan ‘calling’ kita, hal yang hanya saya dan anda saja bisa lakukan, di dunia ini ? Sebagian besar dari kita hidup mengikuti pola baku yang ada dalam budaya dimana kita hidup. Kalau di Indonesia ya gitu : lahir, sekolah, kuliah, kerja, menikah, punya anak, punya cucu, meninggal. Aman dan nyaman mengikuti apa yang diarahkan orang tua atau masyarakat bagi kita. Tujuan kerja adalah mencari uang agar keluarga kita makmur, nyaman dan sejahtera. Buat apa susah payah memikirkan ‘calling’, jalani saja hidup ini. Kita malas bergumul dengan Tuhan. Atau kita merasa frustasi dan bingung, gimana caranya bergumul dan mencari kehendak Tuhan. 

Kiranya Tuhan menolong kita semua. Saya berdoa seperti doa kaum Fransiscan :

Kiranya Tuhan memberkati engkau dengan ketidaknyamanan. Atas jawaban yang mudah, separuh kebenaran dan relasi yang superfisial. Sehingga engkau dapat menghidupi apa yang ada di dalam hatimu.

Kiranya Tuhan memberkati engkau dengan kemarahan. Terhadap ketidakadilan, tekanan dan eksploitasi manusia sehingga engkau dapat mengerjakan keadilan, kebebasan dan kedamaian.

Kiranya Tuhan memberkati engkau dengan air mata, yang tertumpah bagi mereka yang kesakitan, ditolak, kelaparan dan korban peperangan agar engkau dapat mengulurkan tanganmu untuk memberi kenyamanan dan mengubah kesakitan menjadi sukacita.

Dan kiranya Tuhan memberkati engkau dengan kebodohan yang cukup untuk meyakini bahwa kamu dapat membuat perbedaan di dunia. Sehingga kamu dapat melakukan apa yang orang lain katakan tak mungkin dilakukan. Untuk membawa keadilan, kebaikan bagi semua anak-anak dan orang miskin. 

Antara Bisnis Tuhan dan Bisnis Saya

“Setelah saya doakan dan gumulkan saya akan buka start up bidang pendidikan, saya tidak terpanggil jadi hamba Tuhan”. “Akhirnya saya memutuskan keluar dari pekerjaan duniawi saya untuk jadi hamba Tuhan full time.”

Membaca kutipan dua pernyataan di atas, apa yang muncul di kepala anda ? Sepertinya ada perbedaan antara ‘bisnis Tuhan’ dan ‘bisnis dunia’. Ada panggilan pada pekerjaan ‘rohani’ atau pada pekerjaan ‘sekular’. Pekerjaan ‘rohani’ menjadi hamba Tuhan full timer dianggap berada dalam hierarki kesucian tertinggi diikuti oleh aktifis rohani atau bekerja di lembaga Kristen terkait sementara pekerjaan ‘sekular’ berada di tangga bawah bahkan terbawah.

Martin Luther mengatakan: "Tidak diragukan bahwa ide bahwa melayani Tuhan seharusnya hanya terkait dengan altar gereja, bernyanyi, membaca Alkitab dan sejenisnya merupakan trik iblis yang paling merusak. Iblis dengan efektif telah menjauhkan kita dari Tuhan dengan masuknya konsep berpikir bahwa pelayanan hanya di gereja saja... " Padahal menurut Luther : "... seluruh dunia berlimpah dengan pelayanan bagi Tuhan, tidak hanya di gereja-gereja, tapi juga di rumah, dapur, bengkel, kantor, lapangan." (dikutip, O.E. Feucht, Everyone a Minister, 80).

Sebagaimana Allah yang bekerja dalam dunia, maka di mata Allah semua pekerjaan penting dan baik. Semua ranah kehidupan ini dipanggil dengan kedalaman komitmen yang sama untuk memuliakanNYA (Roma 8 : 28; 2 kor 5 : 17-20). Ketika kita melakukan apapun pekerjaan kita, ini adalah perpanjangan pekerjaan Allah dalam mendistribusikan kasih dan pemeliharaanNYA. Semua pekerjaan baik yang ada di dunia merupakan bagian pekerjaan Tuhan ---Tuhan terus bekerja dalam menciptakan, memelihara, mengubah dan membawa pada penyempurnaan. “BapaKU bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” (Yoh 5 : 17). Semua pekerjaan di dunia ini merupakan bisnis Allah dan kita. Tidak ada pilihan antara “bisnis Tuhan dan bisnis saya” dan bukan pula merupakan pilihan melainkan satu kesatuan.

Apapun pekerjaan dan bisnis anda di dunia merupakan perpanjangan dan wujud nyata Allah yang bekerja dalam anda untuk mengubah dunia ini. Dunia yang jatuh ini telah hancur penuh dengan ketamakan, korupsi, ketidakadilan, penyalahgunaan uang dan kekuasaan serta kemalasan dan sebagainya. Maka dimanapun anda berada, apapun yang anda lakukan dapat membawa damai, anugrah yang menyelamatkan dan menumbuh kembangkan kerajaan Allah.

Sebagai seorang pengusaha maupun manajer bagaimana anda menyeimbangkan antara ‘mercy and justice’ antara tuntutan untuk membuat usaha menguntungkan tapi juga memiliki prinsip keadilan serta belas kasihan. Dan bagaimana seorang pendeta juga dapat menerapkan teguran/koreksi dibarengi kasih dan pengampunan. Inilah dimana pengalaman pribadi anda dengan anugrah Tuhan ‘go public’, sehingga berdampak nyata bagi orang orang lain di sekitar anda. Bila kita semua lakukan ini, menghidupi panggilan untuk mengintegrasikan iman dengan apapun pekerjaan kita maka kita dapat mulai membayangkan dunia dimana tiap bagian kehidupan menjadi tempat kekuasaan Allah, tempat dimana kerajaanNYA mulai menjadi nyata dan dirasakan semua orang.

Competition for Common Good *)

Pada bulan Maret 2019 Google didenda sebesar 1.49 miliar Euro (atau sekitar Rp 24 Triliun) karena mempersulit iklan dari pihak pesaing yaitu Microsoft dan Yahoo1. Google didenda karena diduga mencegah iklan dari kedua pesaingnya tersebut dengan memasukkan klausul perjanjian eksklusif dengan rekanan situs pihak ketiga.  Google diduga mengendalikan seberapa menarik iklan pesaing, dan seberapa banyak di-klik. Pesaing Google tidak bisa tumbuh dan berkompetisi. Hasilnya, pemilik website hanya punya sedikit pilihan untuk menjual ruang iklan di situsnya dan terpaksa bergantung pada Google. Membaca berita ini, saya teringat kembali ke cerita kuno berusia ribuan tahun tentang kakak beradik Kain dan Habil. Kain yang memandang pemberian kurban sebagai kompetisi untuk mendapat perkenanan Tuhan, menjadi sangat iri hati ketika tahu bahwa persembahannya tidak cukup bagus dibanding dengan persembahan adiknya. Alih-alih memperbaiki kualitas persembahannya, Kain memilih meniadakan hidup adiknya sendiri. Cerita Kain seolah menjadi pola yang terus berulang dalam dunia saat ini – didunia bisnis, pendidikan, politik bahkan keagamaan. Setiap hari kita menerima kabar hoax dari seseorang atau sekelompok orang lain untuk menghancurkan reputasi lawan demi memenangkan kontestasi politik. Dikantor kita menjadi korban (atau bahkan pelaku!) politik kantor yang kotor demi promosi jabatan. Kita juga melihat kegiatan pembunuhan ini dalam bentuk merger dan akuisisi korporasi. Tujuannyaadalah meniadakan lawan. Kompetisi kita dipenuhi dengan pembunuhan – baik pembunuhan karakter maupun potensi orang lain.

Diminggu-minggu peringatan akan pengorbanan Kristus di kayu Salib, saya bertanya-tanya, apa relevansi dan dampak salib terhadap kompetisi? Jika Yesus telah sedemikian rupa merendahkan diri dan memberikan diriNya dikorbankan agar kita diterima Allah, mengapa kita masih “mengorbankan” orang lain untuk mendapatkan penerimaan? Jika Yesus sudah mau mengosongkan diriNya agar kita bisa menerima kepenuhan Allah, mengapa kita masih sibuk “mengosongkan” orang lain demi mendapatkan signifikansi diri? Eugene Peterson dalam bukunya Run with Horses mengatakan bagian yang sulit dari seni penggembalaan adalah mendorong orang lain untuk mengejar keunggulan (excellence) dan disaat yang sama mengosongkan diri - menyangkali diri dan menemukan diri dalam waktu yang sama. Saya mengamini bahwa hal ini memanglah sulit, setidaknya untuk diri saya sendiri. Bagaimana mungkin mengejar keunggulan untuk orang lain? Bagaimana mungkin mengejar cita-cita setinggi mungkin namun disaat yang bersamaan kita hidup untuk orang lain? Ini adalah hal yang aneh dan mungkin lucu bagi dunia. Dunia mendorong pengejaran keunggulan untuk kekayaan dan pensiun dini. Dunia mengajarkan bahwa kita harus unggul agar kita memiliki akses VIP dimanapun. Namun ini bukan jalan Kristus. Jalan Kristus adalah jalan paradoks. Kristus meminta kita untuk tidak perlu lagi mengejar semua pengakuan dan kenyamanan dunia itu, karena kita sudah aman didalamNya. Kita tidak perlu lagi mencari kepuasaan dengan merasa lebih tinggi dari orang lain, karena kita sudah tidak perlu lagi mencari pengakuan. Kristus mengajarkan untuk tidak hanya memperhatikan kepentingan sendiri, tetapi juga kepentingan orang lain (Fil 2:4). Jika kita memperhatikan kepentingan orang lain, maka pengejaran kita akan keunggulan agar membawa kebaikan bagi orang lain. Tujuan kita untuk menjadi lebih baik bukan lagi untuk memuaskan ego kita, namun agar orang lain merasakan keadaan yang lebih baik juga. Ketika kita berlomba-lomba membawa kebaikan bagi banyak orang melalui keunggulan kita, disanalah anugerah Allah dinyatakan bagi banyak orang - competition for common good!   

 

  1.  https://internasional.kontan.co.id/news/google-didenda-rp-24-triliun-karena-persaingan-tidak-sehat

*) Pembahasan yang lebih komprehensif mengenai Kompetisi dapat dibaca dalam Material berjudul “Kompetisi: Perspektif Injil dan Panggilan Kristen”

 

 

 

Buat Apa Kamu Ada Disini? / Why on Earth Are You Here?

Dalam film LaLaLand, Cek Toko Sebelah dan The Great Wall digambarkan kisah perjalanan hidup orang-orang yang berbeda, di tempat dan situasi yang bebeda-beda pula. LaLaLand mengisahkan perjuangan Sebastian dan Mia menggapai mimpi kejayaan jadi bintang di Hollywood. Dengan kegigihan dan daya adaptasi melawan keraguan, intrik persaingan dan tekanan kegagalan dan depresi. Cek Toko Sebelah adalah gambaran situasi umum di Indonesia : pertentangan keinginan dan ekspektasi antar generasi. Generasi tua ingin anak melanjutkan usaha dan mimpi mereka sementara yang muda ingin menggapai impian pribadi. Terjadi tarik menarik antara jadi anak baik memenuhi harapan orang tua dan jadi anak durhaka yang menuruti kemauannya sendiri. Kisah Great Wall berbeda, disini tidak ada keinginan pribadi melainkan tujuan tunggal untuk menjaga benteng dari serangan mahluk asing dengan segala cara dan resikonya termasuk nyawa para prajurit dan komandannya.

Semua orang dalam ketiga film di atas memiliki tujuan dan mimpi yang ingin diraih, dengan kata lain jelas bagi mereka apa yang menjadi panggilan/’calling’ dalam hidup mereka. Mereka memperjuangkan panggilan itu dengan cara masing-masing, menjalani hidup penuh warna dalam mencapai tujuannya. Sepanjang hidupmu sampai hari ini, pernahkah kamu berpikir mengapa kamu ada di dunia ini, disini masa kini sebagai diri kamu yang unik, tidak ada duanya. Apa implikasi menjadi anak Tuhan ? Apa rencana Tuhan untuk hidupmu ? Atau hidup hanya berjalan mengalir, kamu ikuti saja arusnya. Yang penting kamu dan keluargamu nyaman dan aman buat apa memikirkan hal yang rumit dan bisa melakukan apa yang kamu mau.

Jika kita lihat kembali dalam Alkitab, keseluruhan hidup kita tidak terlepas dari konteks narasi besar Allah tentang kehidupan manusia di dunia ini. Secara garis besar narasi ini dapat dibagi dalam 4 tahap sejarah kemanusiaan di dunia. Pertama kitab Kejadian, pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi, termasuk manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Semuanya adalah baik bahkan sangat baik. Kedua, terjadi kejatuhan sehingga semua yang baik itu menjadi ‘broken’, hancur karena dosa masuk dunia. Ketiga, Allah yang maha Kasih menyediakan jalan keluar melalui keputusanNYA mengutus Kristus mati di salib, dibangkitkan dan menebus dosa kita. Cerita tidak berhenti sampai disini saja, setelah penebusan cerita masih tetap berjalan ke bagian keempat atau terakhir yaitu halaman terakhir Alkitab dalam kitab Wahyu : adanya pemulihan dari semua kejatuhan dalam langit baru dan bumi baru. Kita hidup dimasa ‘already but not yet’ sudah ada penebusan Kristus tetapi belum terjadi pemulihan dunia sepenuhnya.

Secara umum anak Tuhan dipanggil untuk menjadi rekan sekerja Allah melanjutkan dan menjadi perpanjangan tangan Tuhan di dunia ini. Seperti rancangan di taman Eden, Adam dan Hawa diperintahkan untuk berkarya. Allah kita adalah Allah yang bekerja baik di awal penciptaan dan seterusnya sampai hari ini Allah terus bekerja : memelihara, mencipta, mengatur, menopang dunia. Bayangkan kalau Allah berhenti bekerja, bumi berhenti berputar matahari tidak bersinar, pohon tidak mengeluarkan oksigen, kita berhenti bernafas. Hakekat kita sebagai imago dei membuat kita mahluk bekerja. Bekerja dan pekerjaan itu baik dan penting di mata Allah dan bukanlah merupakan akibat dosa. Sedari awal kita dirancang untuk bekerja sama dengan Allah. Karena kejatuhan dalam dosa, panggilan umum untuk bekerja/berkarya ini menjadi sulit ada banyak kerusakan dan kejatuhan di tiap bidang kehidupan manusia.

Secara khusus tiap tiap dari kita diberikan karunia, bakat, kemampuan, talenta khas yang dapat kita kembangkan. Inilah yang menjadikan diri kita berbeda, khusus tidak sama dengan manusia lainnya. Allah memanggil kita secara pribadi untuk membawa syalom dan men-transformasi dunia di mana kita berada sehingga kerajaan Allah  mulai menjadi nyata di dunia ini. Apa panggilan pribadi kita merupakan hal yang terus kita doakan dan cari.

 

 

Сачак (Ламперия) http://www.emsien3.com/sachak от ЕМСИЕН-3
Дървени талпи http://www.emsien3.com/талпи от ЕМСИЕН-3

Log In or Sign Up

Forgot your password? / Forgot your username?


Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/k2056495/public_html/libraries/joomla/filter/input.php on line 664

Deprecated: preg_replace(): The /e modifier is deprecated, use preg_replace_callback instead in /home/k2056495/public_html/libraries/joomla/filter/input.php on line 667