Articles

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:28, LAI)

 

Prolog

Di satu sisi, pekerjaan adalah desain diri dan martabat kita yang dikaruniakan Allah. Di sisi lain, pekerjaan adalah suatu cara untuk melayani Allah melalui kreatifitas atau kreasi budaya kita. Mari kita melihat kedua hal ini secara lebih luas dan mendalam.

 Allah menciptakan manusia (laki-laki dan perempuan) menurut gambar dan rupaNya untuk memenuhi dan menguasai (menaklukkan) bumi dan segala isinya (Kejadian 1:26-28). Kita diciptakan menurut peta dan teladan Allah, kita adalah tiruan atau imitasi Allah. Inilah desain diri dan martabat kita sebagai ciptaan Allah yang tertinggi sekaligus sebagai panggilan dan tugas mulia bagi kita untuk “memenuhi bumi dan menaklukkannya.” (Kejadian 1:28). Perintah ini dikenal dengan istilah “mandat budaya.” Apa artinya?

“Bingung nih mau masuk jurusan apa kuliahnya.” “Mau kerja dimana ya setelah lulus kuliah.” “Sepertinya aku salah jurusan nih”.

Menentukan arah dan tujuan dalam hidup memang tidak gampang. Tidak semua orang memiliki ‘personal calling’ yang jelas seperti Musa yang sangat jelas dipanggil untuk jadi pemimpin atau Daud yang bakalan jadi raja. Kebanyakan dari kita lebih seperti Yusuf, yang tahu bahwa Tuhan memanggil kita ke tujuan khusus tertentu yang hanya kita saja bisa jalankan, tapi tidak tahu dengan jelas jalannya seperti apa. Sepanjang hidup Yusuf, Tuhan memimpin dan memperjelas panggilannya hingga akhirnya terpenuhi.

Jaman now ini kalau bicara soal ‘calling’ atau panggilan biasanya terkait dengan orisinalitas menjadi diri sendiri, cari tahu ‘passion’ dan kejar passion itu. Ada tes minat bakat dan kemampuan juga ada tes karunia rohani. Tapi nyatanya ada begitu banyak orang yang merasa “I hate Monday”, yang hidupnya kurang optimal dan hanya hidup dari hari ke sehari. Apa yang salah ?

Pada bulan Maret 2019 Google didenda sebesar 1.49 miliar Euro (atau sekitar Rp 24 Triliun) karena mempersulit iklan dari pihak pesaing yaitu Microsoft dan Yahoo1. Google didenda karena diduga mencegah iklan dari kedua pesaingnya tersebut dengan memasukkan klausul perjanjian eksklusif dengan rekanan situs pihak ketiga.  Google diduga mengendalikan seberapa menarik iklan pesaing, dan seberapa banyak di-klik. Pesaing Google tidak bisa tumbuh dan berkompetisi. Hasilnya, pemilik website hanya punya sedikit pilihan untuk menjual ruang iklan di situsnya dan terpaksa bergantung pada Google. Membaca berita ini, saya teringat kembali ke cerita kuno berusia ribuan tahun tentang kakak beradik Kain dan Habil. Kain yang memandang pemberian kurban sebagai kompetisi untuk mendapat perkenanan Tuhan, menjadi sangat iri hati ketika tahu bahwa persembahannya tidak cukup bagus dibanding dengan persembahan adiknya. Alih-alih memperbaiki kualitas persembahannya, Kain memilih meniadakan hidup adiknya sendiri. Cerita Kain seolah menjadi pola yang terus berulang dalam dunia saat ini – didunia bisnis, pendidikan, politik bahkan keagamaan. Setiap hari kita menerima kabar hoax dari seseorang atau sekelompok orang lain untuk menghancurkan reputasi lawan demi memenangkan kontestasi politik. Dikantor kita menjadi korban (atau bahkan pelaku!) politik kantor yang kotor demi promosi jabatan. Kita juga melihat kegiatan pembunuhan ini dalam bentuk merger dan akuisisi korporasi. Tujuannyaadalah meniadakan lawan. Kompetisi kita dipenuhi dengan pembunuhan – baik pembunuhan karakter maupun potensi orang lain.