Articles

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:28, LAI)

 

Prolog

Di satu sisi, pekerjaan adalah desain diri dan martabat kita yang dikaruniakan Allah. Di sisi lain, pekerjaan adalah suatu cara untuk melayani Allah melalui kreatifitas atau kreasi budaya kita. Mari kita melihat kedua hal ini secara lebih luas dan mendalam.

 Allah menciptakan manusia (laki-laki dan perempuan) menurut gambar dan rupaNya untuk memenuhi dan menguasai (menaklukkan) bumi dan segala isinya (Kejadian 1:26-28). Kita diciptakan menurut peta dan teladan Allah, kita adalah tiruan atau imitasi Allah. Inilah desain diri dan martabat kita sebagai ciptaan Allah yang tertinggi sekaligus sebagai panggilan dan tugas mulia bagi kita untuk “memenuhi bumi dan menaklukkannya.” (Kejadian 1:28). Perintah ini dikenal dengan istilah “mandat budaya.” Apa artinya?

Pertama, kita dipanggil untuk “memenuhi bumi” dengan cara beranakcucu dan bertambah banyak (manusia diberi mandat untuk berlipatganda secara sengaja). Mengapa hal ini menjadi sebuah pekerjaan−bukankah ini suatu proses alamiah? Tidak. Diciptakannya Adam dan Hawa dengan memiliki jenis kelamin (berbeda, saling melengkapi, dan setara) menyebabkan prokreasi biologis, suatu cara mulia di mana kita sebagai mahluk yang segambar dan serupa dengan Allah menjalankan pekerjaan yang dimulaiNya sejak awal: memenuhi bumi dengan segala ciptaan dan keberagaman. Istilah “memenuhi bumi” memiliki makna yang jauh lebih besar dari sekedar proses alamiah. Allah tidak ingin hanya ada lebih banyak individu spesies manusia di bumi. Keinginan Allah ialah agar bumi dipenuhi oleh sebuah masyarakat manusia. Allah menciptakan kita untuk menjalankan tugas pembangunan dan pengembangan masyarakat yang memuliakan Allah.

Kedua, kita dipanggil untuk “berkuasa” atas ciptaan lainnya dan bahkan untuk “menaklukkannya.” Apa artinya? Kata “menaklukkan” menyiratkan bahwa kekuatan alam mengandung elemen pemberontakan dan perlu ditaklukkan dengan cara yang bermusuhan. Namun, teks ini tidaklah memberikan lisensi bagi umat manusia untuk mengeksploitasi alam. Jadi, dalam hal ini tidak ada tujuan bengis untuk “menaklukkan” bumi. Sebaliknya, Allah telah menempatkan bumi di bawah pemeliharaan manusia untuk dikelola dan dirawat sesuai dengan kehendakNya. Jelas bahwa ini bukan suatu mandat untuk memperlakukan dunia dan berbagai sumber dayanya seolah-olah mereka adalah milik kita untuk dieksploitasi atau dikelola dengan seenaknya.   

 Jadi kata “menaklukkan” mengindikasikan bahwa Allah membuat kita membutuhkan aspek kerja, bahkan sebelum kejatuhan manusia dalam dosa. Allah membuatnya sedemikian rupa sehingga bahkan Allah pun harus mengerjakannya untuk menjadi seperti rancanganNya, untuk menampilkan seluruh kekayaan dan potensinya, di mana Allah merasa sangat puas atas segala ciptaanNya−Kejadian 1:31. Bukan kebetulan bahwa dalam teks Kejadian 1:28 di atas, Allah menyuruh kita untuk melakukan dua hal yang sama yang telah dilakukanNya karena kita memang dipanggil untuk meniruNya.

 

Menciptakan Budaya Bersama Allah

            Jika kita mau menjadi penyandang gambar (peniru) Allah bagi alam ciptaan, maka kita perlu meneruskan pola kerjaNya dengan cara mengembangkan potensinya sepenuhnya (secara optimal). Kita harus menjadi seperti tukang kebun yang mengambil posisi aktif terhadap alam yang dipercayakan kepada mereka. Mereka tidak membiarkan tanah apa adanya, melainkan menggali potensi tanah itu agar tumbuh dan berkembang. Mereka menggali tanah dan mengaturnya dengan satu tujuan: menata ulang bahan-bahan mentah kebun itu untuk menghasilkan makanan, bunga-bungaan, dan keindahan. Demikianlah segala pola untuk pekerjaan: kreatif dan asertif. Kita dipanggil untuk mengatur ulang bahan-bahan mentah ciptaan Allah sedemikian rupa untuk menolong bumi dan manusia sehingga tumbuh subur dan sejahtera.

            Pola ini ditemukan dalam berbagai bentuk pekerjaan. Pertanian mengambil materi fisik tanah dan benih dan menghasilkan makanan. Musik mengambil materi fisik suara dan menatanya menjadi sesuatu yang indah dan menggairahkan yang membawa makna kehidupan. Saat kita mengambil tenunan dan membuat sepotong pakaian, mengayunkan sapu dan membersihkan sebuah ruangan, menggunakan teknologi untuk memanfaatkan kekuatan listrik, mengambil pikiran manusia yang naif dan masih polos dan mengajarinya suatu pengetahuan, mengajar sebuah pasangan mengenai cara untuk menyelesaikan pertengkaran dalam hubungan mereka, saat kita mengambil bahan-bahan yang sederhana dan mengubahnya menjadi suatu karya seni yang menyentuh−kita meneruskan karya Allah untuk membentuk, memenuhi, dan menaklukkan. Setiap kali kita membawa keteraturan di tengah kekacauan, menimba potensi kreatif, mengembangkan dan “membentangkan” ciptaan dari keadaaan saat kita menemukannya, maka kita telah mengikuti pola kreatif Allah dalam pengembangan budaya. Inilah yang disebut dengan budidaya. Seperti halnya Dia menaklukkan bumi dalam karya penciptaanNya, demikian pula sekarang Dia memanggil kita untuk bekerja sebagai utusan-utusannya untuk meneruskan karyaNya dalam mengembangkan ciptaan dalam suatu kesinambungan dan perluasan. Dia memanggil kita  untuk mengembangkan seluruh kapasitas manusia dan alam semesta dalam membangun suatu peradaban yang memuliakanNya.

            Melalui karya kita−baik itu berupa seni, sains, bisnis, teknologi, keuangan, pendidikan, pertanian, jasa konstruksi, atau memasak−kita menarik keluar sumber daya dari dunia materi. Jadi entah itu menyambung suatu gen atau melakukan pembedahan otak atau mengumpulkan sampah atau melukis, karya kita mengembangkan, mempertahankan, atau memperbaiki lebih jauh tenunan dunia. Tidak peduli apakah itu pekerjaan rendahan seperti memungut sampah (menjadi pemulung) atau memungut pajak (bea-cukai) atau disanjung seperti menjadi atlet Olimpiade, pekerjaan kita akan membawa keteraturan ke dalam kekacauan, menciptakan entitas-entitas baru, dan mengeksplorasi pola-pola penciptaan, serta menenun komunitas manusia. Dengan cara ini, kerja manusia adalah kerja sama dengan Allah dalam karyaNya.

            Suatu pemahaman Alkitabiah yang tepat akan pekerjaan memberi kita tenaga untuk menciptakan nilai (contoh: barang yang bagus dan awet) dari sumber-sumber daya yang tersedia bagi kita. Mengenali Allah yang menyediakan kebutuhan dan yang memberi kita hak istimewa untuk bergabung sebagai rekan pembudidaya, akan menolong kita untuk masuk ke dalam pekerjaan dengan semangat kreatifitas yang tanpa henti.   

 

Epilog

            Allah adalah seorang pencipta/ inventor yang menciptakan dunia untuk menciptakan ruang bagi segala jenis keberadaan/ keberagaman dan interaksi yang baru. Aspek pemahaman alkitabiah yang benar dan tepat tentang pekerjaan akan memberi visi dan makna bukan hanya kepada upaya-upaya yang ambisius, tetapi juga bagi usaha-usaha yang paling sepele karena sama perlunya mengembangkan ciptaan dalam cara-cara yang biasa sehari-hari. Dalam bukunya yang berisi ide-ide baru dan mudah dicerna, Culture Making (Menciptakan Kebudayaan: Menemukan Kembali Panggilan Kreatif Kita), Andy Crouch mengingatkan kita bahwa pekerjaan kita adalah penting dalam semua skala, baik yang besar dan rumit maupun yang sederhana.

Tidak ada pekerjaan sehari-hari yang kekurangan martabat karena mengikuti pola kerja Allah sendiri, tetapi juga tidak ada transaksi bisnis raksasa atau inisiatif kebijakan umum yang sebegitu tingginya sehingga melampaui pola dan keterbatasan dalam hakikat atau natur pekerjaan itu sendiri. Allah tidak meninggalkan kita sendirian untuk menemukan cara atau penyebab kita harus mengembangkan ciptaanNya; sebaliknya Ia telah memberi kita suatu tujuan yang jelas bagi karya kita dan dengan setia memanggil kita kepada tujuan itu.          

 

Doa: Ya Tuhan Allah, mampukanlah kami untuk mengikuti pola kerjaMu dan dengan setia mengembangkan ciptaanMu untuk membangun suatu peradaban masyarakat yang memuliakan Engkau.

 

*Ringkasan dan adaptasi dari buku Timothy Keller, “Apakah Pekerjaan Anda Bagian dari Pekerjaan Allah? (Every Good Endeavor)” Bab 3, Penerbit Literatur Perkantas Jawa Timur, Cetakan Keempat: Desember 2017.