Articles

Pada bulan Maret 2019 Google didenda sebesar 1.49 miliar Euro (atau sekitar Rp 24 Triliun) karena mempersulit iklan dari pihak pesaing yaitu Microsoft dan Yahoo1. Google didenda karena diduga mencegah iklan dari kedua pesaingnya tersebut dengan memasukkan klausul perjanjian eksklusif dengan rekanan situs pihak ketiga.  Google diduga mengendalikan seberapa menarik iklan pesaing, dan seberapa banyak di-klik. Pesaing Google tidak bisa tumbuh dan berkompetisi. Hasilnya, pemilik website hanya punya sedikit pilihan untuk menjual ruang iklan di situsnya dan terpaksa bergantung pada Google. Membaca berita ini, saya teringat kembali ke cerita kuno berusia ribuan tahun tentang kakak beradik Kain dan Habil. Kain yang memandang pemberian kurban sebagai kompetisi untuk mendapat perkenanan Tuhan, menjadi sangat iri hati ketika tahu bahwa persembahannya tidak cukup bagus dibanding dengan persembahan adiknya. Alih-alih memperbaiki kualitas persembahannya, Kain memilih meniadakan hidup adiknya sendiri. Cerita Kain seolah menjadi pola yang terus berulang dalam dunia saat ini – didunia bisnis, pendidikan, politik bahkan keagamaan. Setiap hari kita menerima kabar hoax dari seseorang atau sekelompok orang lain untuk menghancurkan reputasi lawan demi memenangkan kontestasi politik. Dikantor kita menjadi korban (atau bahkan pelaku!) politik kantor yang kotor demi promosi jabatan. Kita juga melihat kegiatan pembunuhan ini dalam bentuk merger dan akuisisi korporasi. Tujuannyaadalah meniadakan lawan. Kompetisi kita dipenuhi dengan pembunuhan – baik pembunuhan karakter maupun potensi orang lain.

Diminggu-minggu peringatan akan pengorbanan Kristus di kayu Salib, saya bertanya-tanya, apa relevansi dan dampak salib terhadap kompetisi? Jika Yesus telah sedemikian rupa merendahkan diri dan memberikan diriNya dikorbankan agar kita diterima Allah, mengapa kita masih “mengorbankan” orang lain untuk mendapatkan penerimaan? Jika Yesus sudah mau mengosongkan diriNya agar kita bisa menerima kepenuhan Allah, mengapa kita masih sibuk “mengosongkan” orang lain demi mendapatkan signifikansi diri? Eugene Peterson dalam bukunya Run with Horses mengatakan bagian yang sulit dari seni penggembalaan adalah mendorong orang lain untuk mengejar keunggulan (excellence) dan disaat yang sama mengosongkan diri - menyangkali diri dan menemukan diri dalam waktu yang sama. Saya mengamini bahwa hal ini memanglah sulit, setidaknya untuk diri saya sendiri. Bagaimana mungkin mengejar keunggulan untuk orang lain? Bagaimana mungkin mengejar cita-cita setinggi mungkin namun disaat yang bersamaan kita hidup untuk orang lain? Ini adalah hal yang aneh dan mungkin lucu bagi dunia. Dunia mendorong pengejaran keunggulan untuk kekayaan dan pensiun dini. Dunia mengajarkan bahwa kita harus unggul agar kita memiliki akses VIP dimanapun. Namun ini bukan jalan Kristus. Jalan Kristus adalah jalan paradoks. Kristus meminta kita untuk tidak perlu lagi mengejar semua pengakuan dan kenyamanan dunia itu, karena kita sudah aman didalamNya. Kita tidak perlu lagi mencari kepuasaan dengan merasa lebih tinggi dari orang lain, karena kita sudah tidak perlu lagi mencari pengakuan. Kristus mengajarkan untuk tidak hanya memperhatikan kepentingan sendiri, tetapi juga kepentingan orang lain (Fil 2:4). Jika kita memperhatikan kepentingan orang lain, maka pengejaran kita akan keunggulan agar membawa kebaikan bagi orang lain. Tujuan kita untuk menjadi lebih baik bukan lagi untuk memuaskan ego kita, namun agar orang lain merasakan keadaan yang lebih baik juga. Ketika kita berlomba-lomba membawa kebaikan bagi banyak orang melalui keunggulan kita, disanalah anugerah Allah dinyatakan bagi banyak orang - competition for common good!   

 

  1.  https://internasional.kontan.co.id/news/google-didenda-rp-24-triliun-karena-persaingan-tidak-sehat

*) Pembahasan yang lebih komprehensif mengenai Kompetisi dapat dibaca dalam Material berjudul “Kompetisi: Perspektif Injil dan Panggilan Kristen”